KATADATA – Dua bank pelat merah, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, meningkatkan cadangan kerugian penurunan nilai (CPKN) untuk menekan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL). Kenaikan CPKN tersebut membuat laba bersih kedua bank tersebut tertahan.
“Saat ini coverage ratio kami 168 persen. Ini sudah turun dibandingkan sebelumnya 188 persen. Kami sempat dipanggil regulator kenapa coverage ratio tinggi, makanya profit rendah,” tutur Direktur Utama Bank Mandiri Budi Gunadi Sadikin dalam paparan kinerja semester I-2015 di kantornya, Jakarta, Kamis (30/7).
Dia mengatakan, kenaikan dana cadangan kerugian tersebut untuk mengantisipasi perlambatan ekonomi yang diperkirakan masih berlanjut pada tahun depan. Apalagi pada semester I ini, tingkat NPL gross perseroan meningkat dari 2,23 persen pada tahun lalu menjadi 2,43 persen. Sedangkan secara nett, rasio kredit bermasalah naik menjadi 1,01 persen dari sebelumnya 0,81 persen.
Pada periode Januari-Juni 2015, laba bersih perseroan hanya tumbuh 3,5 persen menjadi Rp 9,9 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Padahal pada semester I-2014, Bank Mandiri mampu mencetak pertumbuhan sebesar 15,6 persen menjadi Rp 9,6 triliun. Budi memperkirakan, pertumbuhan laba hingga akhir tahun di bawah 10 persen.
Adapun pendapatan bunga bersih atau net interest margin (NIM) tercatat turun menjadi 5,8 persen dari sebelumnya 5,9 persen. Budi menjelaskan, penurunan NIM karena sebelumnya perusahaan menetapkan suku bunga acuan yang tinggi, untuk mengejar likuiditas. Seiring likuiditas yang membaik perusahaan bisa menurunkan suku bunga deposito.
Langkah antisipasi kenaikan NPL juga dilakukan Bank Negara Indonesia (BNI). Direktur Utama BNI Achmad Baiquni mengatakan, perseroan menaikkan coverage ratio dari 129 persen menjadi 138,8 persen. “Ini yang menyebabkan laba turun,” ujar dia dalam paparan kinerja semester I-2015 di kantornya.
Pada semester I, perseroan mencetak laba bersih Rp 2,4 triliun. Angka ini tuun 50,8 persen dibandingkan realisasi pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 4,9 triliun. BNI membukukan pendapatan bunga bersih (Net Interest Income) sebesar Rp12,3 triliun sampai semester I-2015 atau naik 14% dibandingkan periode yang sama di tahun lalu sebesar Rp10,8 triliun.
Kenaikan pendapatan bunga bersih tersebut diperoleh dari kenaikan penyaluran kredit sebesar 12,1 menjadi Rp 288,7 triliun. Meski begitu, rasio kredit bermasalah perseroan naik dari 2,2 persen menjadi 3 persen.
Sumber : Antisipasi Kredit Bermasalah, Dua Bank BUMN Naikkan Cadangan Risiko
Berita lainnya dari KATADATA.CO.ID :
Lelang Lima Pembangkit Panas Bumi, Pemerintah Janjikan Insentif
Ekspor Rendah, Kenaikan Rasio Utang Dikhawatirkan
Pertamina: Belum Ada Impor Pertalite
Katadata on Facebook | Twitter | Google +
via Katadata.co.id
0 comments:
Post a Comment