KATADATA – Pemerintah berupaya mengembalikan kepercayaan pasar terhadap kinerja perekonomian dalam negeri. Ini supaya aliran modal asing, terutama yang masuk ke pasar modal tidak keluar.
Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan, persepsi pasar terhadap fundamental perekonomian Indonesia memang sedang menurun. Ini terkait dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terjadi sejak 2012.
“Itu aspek yang ingin kami perbaiki. Sekarang kan yang outflow banyak dari pasar modal. Kalau dari surat utang negara (SUN) banyak yang masih inflow,” kata Bambang seusai rapat koordinasi pemerintah dengan Bank Indonesia (BI) di Gedung BI, Jakarta, Rabu (19/8).
Pemerintah lanjut dia, berupaya agar persepsi pasar bahwa Indonesia tidak terisolasi. Ini agar investor bisa semakin percaya diri untuk menanamkan modalnya di dalam negeri.
“Masalah persepsi, orang lihatnya Indonesia seolah-olah terisolasi dari luar. Ini kan masalah luar. Buktinya Cina saja sampai devaluasi karena sadar pertumbuhan ekonominya lemah,” kata Bambang.
Perlambatan ekonomi Cina, lanjut dia, berdampak langsung ke Indonesia. Soalnya, Cina merupakan salah satu pasar terbesar produk ekspor asal Indonesia. Salah satu cara untuk memperbaiki kepercayaan tersebut adalah dengan mempercepat pencairan belanja modal pemerintah dan daerah.
Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, berkurangnya kepercayaan investor selain menyebabkan keluarnya aliran modal, juga berdampak terhadap nilai tukar rupiah. “Memang situasinya adalah capital inflow-nya betul betul nggak ada. Ya jelas tekanan ke rupiahnya datang lagi,” kata dia. (Baca: Sinyal Mengkhawatirkan dari Data Perdagangan)
Di pasar modal, indeks harga saham gabungan (IHSG) tercatat sudah turun sebesar 6,1 persen selama Agustus 2015. Dalam periode itu, dana investor asing yang keluar mencapai Rp 4,5 triliun. Sementara nilai tukar rupiah mengalami pelemahan sebesar 3,3 persen dari Rp 13.370 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir Juli menjadi Rp 13.815 per dolar AS pada 18 Agustus.
Persepsi pasar tersebut dipengaruhi oleh memburuknya sejumlah indikator ekonomi makro Indonesia. Dari sisi pertumbuhan ekonomi, pada kuartal II ekonomi Indonesia semakin melambat yakni hanya tumbuh 4,67 persen, sekaligus mencatatkan sebagai yang terendah sejak 2010.
Terakhir, rilis kinerja perdagangan Juli yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) kemarin pun dinilai mengecewakan. Meskipun mengalami surplus sebesar US$ 1,3 miliar, kinerja ekspor dan impor Indonesia justru menunjukkan penurunan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor pada Juli sebesar US$ 11,4 miliar atau turun 19,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Ini merupakan kinerja terburuk sejak Agustus 2012. Demikian pula dengan kinerja impor yang mencatatkan sebesar US$ 10,1 miliar, turun 28,4 persen dibandingkan tahun lalu.
Realisasi indikator perekonomian tersebut yang kemudian menerbitkan kekhawatiran sejumlah ekonom bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi semakin melambat. Walau pemerintah sudah menurunkan target pertumbuhan ekonomi 2015 menjadi 5 persen, dikhawatirkan target tersebut akan sulit tercapai. (Baca: Pertumbuhan Ekonomi RI Sulit Tembus 5 Persen)
Apalagi kontributor utama pertumbuhan ekonomi, yakni konsumsi rumah tangga, investasi, dan ekspor melemah. Alhasil, yang menjadi andalan adalah belanja pemerintah.
Sumber : Cegah Modal Keluar, Pemerintah Jaga Kepercayaan Pasar
Berita lainnya dari KATADATA.CO.ID :
Anggaran Subsidi Energi Tahun Depan Dikurangi
Pasar Was-Was, Pemerintah dan BI Berkoordinasi Perbaiki Ekonomi
OJK: Penerbitan Obligasi Jabar Baru Bisa Dilakukan 2016
Katadata on Facebook | Twitter | Google +
via Katadata.co.id
0 comments:
Post a Comment