KATADATA – Senin kemarin (24/8), kepanikan melanda para investor saham di seluruh dunia. Mereka khawatir melihat sinyal perlambatan ekonomi Cina semakin kentara setelah negara itu melakukan devaluasi mata uang yuan. Anjloknya harga minyak dunia hingga ke level di bawah US$ 40 per barel semakin menerbitkan rasa was-was. Apalagi, rencana bank sentral Amerika Serikat (AS) mengerek suku bunga The Fed pada September nanti menjadi tidak pasti.
Akumulasi kecemasan tersebut membuat para investor melego saham-sahamnya. Alhasil, indeks bursa saham utama dunia rontok. Indeks bursa saham di AS jatuh 3,6 persen sedangkan indeks bursa di Cina rontok 8,5 persen. Riset DBS Indonesia menyatakan kondisi bursa saham akan tetap rapuh hingga Cina dapat menunjukan stabilitas ekonominya. Untuk mengingat hari kelam di lantai bursa tersebut, para investor menyebut kejatuhan bursa saham di seluruh dunia itu "Black Monday".
Bursa saham di Indonesia juga terkena virus "Black Monday". IHSG turun 4 persen, sehingga sepanjang tahun ini terkoreksi sekitar 20 persen. Ekonom DBS Gundy Cahyadi menyatakan, penurunan IHSG tak bisa dipisahkan dari pelemahan mata uang rupiah. Karena itu, perlu peran Bank Indonesia untuk mengembalikan kepercayaan investor di lantai bursa. Selain itu, perlu juga perubahan struktur ekonomi nasional sehingga ekspor tidak hanya bergantung kepada ekspor komoditas.
Sumber : Ekonografik : Black Monday, Bursa Saham Berguguran
Berita lainnya dari KATADATA.CO.ID :
DPR Minta Pemerintah Bertindak Cepat Antisipasi Krisis
RI Usul Transaksi Dagang di ASEAN Pakai Yuan
Hingga Agustus, Kementerian PU Targetkan Serap 30 Persen Anggaran
Katadata on Facebook | Twitter | Google +
via Katadata.co.id
0 comments:
Post a Comment