KATADATA – Sepekan telah berlalu sejak Cina mengguncang pasar global dengan menurunkan nilai yuan (devaluasi) terhadap dolar sebesar 1,9 persen. Ini merupakan devaluasi terbesar yang dilakukan dalam tempo dua dekade terakhir. Devaluasi dilakukan sebagai upaya pemerintah Cina untuk meningkatkan kinerja ekspor yang terus tergerus, di tengah pelemahan mata uang negara kompetitor (Korea Selatan dan Jepang).
Pelemahan yuan, yang memicu perang mata uang global, tak ayal berdampak terhadap nilai mata uang negara kawasan Asia-Pasifik dan beberapa negara berkembang di Afrika dan Amerika Latin. Rupiah pun tak terkecuali. Dalam sepekan rupiah terdepresiasi 2,3 persen ke level Rp 13.815 per dolar, terendah sejak 1998. Imbal balik rupiah di pasar spot pun termasuk yang terburuk, yakni -1,4 persen. Lebih buruk bila dibandingkan dengan imbal balik Taiwan yang mencapai -1,1 persen.
Chief Economist IGIco Advisory Martin Panggabean menilai, pemerintah perlu menyiapkan rencana strategi besar untuk menghadapi perang mata uang global. Apalagi Cina diperkirakan masih akan melakukan devaluasi mata uangnya. "Dampak global currency war terhadap kondisi Indonesia ini akan berpengaruh signifikan, sebab banyak proyek infrastruktur di Tanah Air mengandalkan Cina," ujarnya.
Sumber : Ekonografik : Terpuruk Karena Yuan
Berita lainnya dari KATADATA.CO.ID :
Kekhawatiran Investor Cenderung Meningkat
Tangkal Spekulasi Rupiah, BI Perketat Syarat Pembelian Valas
Dilema Sawit di Tengah Rendahnya Harga Minyak
Katadata on Facebook | Twitter | Google +
via Katadata.co.id
0 comments:
Post a Comment