KATADATA – Sejumlah indikator perekonomian Amerika Serikat (AS) terus membaik, yang menunjukkan perekonomian di negara itu mendekati titik normal. Kondisi tersebut akan semakin meneguhkan keyakinan bank sentral AS (The Federal Reserve) untuk segera menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Bagi Indonesia, kabar itu berpotensi semakin menekan nilai tukar rupiah dan mengganggu pertumbuhan ekonomi.
Presiden The Fed Atlanta Dennis Lockhart menyatakan, keputusan menaikkan suku bunga akan segera tiba. “Saya pikir titik untuk lepas landas sudah dekat. Perekonomian telah mendekati titik normal, kondisinya tidak lagi luarbiasa,” kata dia saat berpidato dalam acara Atlanta Press Club, Senin (10/8) waktu setempat, seperti dikutip Reuters.
Lochkhart, yang merupakan tokoh sentral dan pemegang suara kunci pada Komite Kebijakan The Fed, menyatakan kenaikan suku bunga akan diputuskan dalam rapat The Fed bulan September mendatang. Namun, kenaikan suku bunga The Fed harus dilakukan secara bertahap sejalan dengan kondisi perkembangan ekonomi AS.
Menurut dia, ekonomi AS telah menyingkirkan beberapa rintangan utama yang menjadi kekhawatiran selama ini. Yang utama adalah perbaikan signifikan pasar tenaga kerja. Jumat pekan lalu, Departemen Tenaga Kerja mencatat jumlah tenaga kerja non-pertanian pda Juli 2015 bertambah 215.000 dari bulan sebelumnya.
Namun, yang masih menjadi perhatian The Fed untuk menaikkan suku bunga adalah angka inflasi masih rendah. The Fed berharap inflasi bisa naik menjadi 1,3 persen. “Angkatan kerja telah penuh tapi inflasi masih sangat rendah," kata Wakil Ketua The Fed Stanley Fischer, dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg TV, Senin lalu. Jadi, masih butuh suatu kebijakan agar inflasi juga membaik.
Meski begitu, Lockhart optimistis The Fed akan segera menaikkan suku bunga AS bulan depan. Ia yakin inflasi akan naik menuju target bank sentral dalam beberapa bulan mendatang seiring pertumbuhan ekonomi.
Sejak Mei lalu, Lockhart memang sudah menargetkan kenaikan suku bunga pada bulan September. Empat dari 10 anggota voting di Komite Kebijakan The Fed juga telah setuju dengan pandangan Lockhart. Apalagi, risiko perekonomian dari luar negeri, seperti krisis utang Yunani dan melemahnya ekonomi Cina, telah surut. "Kami semakin dekat dengan apa yang dirasakan sebagai ‘negara sehat’,” katanya.
Terkait dampak kenaikan bunga The Fed tersebut, Ekonom Standard Chartered Erick Sugandi memperkirakan, pelemahan rupiah akan terus berlanjut hingga ke level Rp 13.900 per dolar AS. Apalagi, keputusan The Fed itu pasti akan diikuti oleh Bank Indonesia (BI) dengan menaikkan suku bunga acuan BI rate menjadi 7,75 persen pada September mendatang. Hal tersebut akan memukul sektor riil di dalam negeri dan menggerus daya beli masyarakat.
Tapi, Erick optimistis perekonomian Indonesia tetap tumbuh tahun ini. "Kami sudah melakukan stress test hingga rupiah melemah ke level Rp 15.000 per dolar AS, perekonomian masih dalam keadaan baik,” katanya di Bandung, Jumat pekan lalu (7/8).
Sumber : Ekonomi Amerika Mendekati Normal, Bunga The Fed Segera Naik
Berita lainnya dari KATADATA.CO.ID :
Ekonomi Melambat, Jokowi Siap Ganti Menteri
Menunggu Reformasi Kebijakan Ekonomi Jokowi
Chevron Dapat Izin, Menteri LHK Perjelas Aspek Hukum Eksplorasi Migas
Katadata on Facebook | Twitter | Google +
via Katadata.co.id
0 comments:
Post a Comment