Home » » Harga Minyak Anjlok dan Subsidi BBM Menjepit Ekonomi Arab Saudi

Harga Minyak Anjlok dan Subsidi BBM Menjepit Ekonomi Arab Saudi

Written By JUFRI on Tuesday, 25 August 2015 | 02:42

Katadata

KATADATA – Penurunan harga minyak dunia hingga di bawah level US$ 40 per dollar Amerika Serikat (AS) mulai memukul perekonomian Arab Saudi. Defisit anggaran negara produsen minyak terbesar dunia tersebut membengkak, hingga ke level terbesar dalam satu dekade terakhir. Sedangkan laju pertumbuhan ekonomi diprediksi melambat di bawah 3 persen tahun ini.

Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan defisit anggaran Arab Saudi tahun ini mencapai 20 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Adapun cadangan devisa terus tergerus sebesar US$ 70 miliar atau turun 10 persen dari tahun lalu. Tren perlambatan ekonomi dunia yang menyebabkan gejolak di bursa saham global turut berimbas ke Arab Saudi. Indeks saham Tadawul di negara itu anjlok 18 persen dalam tiga bulan terakhir.

Khalid Alsweilem, mantan Kepala Investasi bank sentral di Arab Saudi, mengenang kondisi sekarang seperti krisis ekonomi global tahun 1998 silam. Kala itu, harga minyak jatuh ke level terendah dalam satu dekade terakhir sehingga cadangan devisa negara menipis. Sedangkan ekonomi negara-negara berkembang sedang kacau. “Itu adalah saat yang sangat menakutkan," katanya, seperti dikutip Bloomberg, Jumat pekan lalu (21/8).

Untungnya, harga minygak dunia cepat pulih sehingga ekonomi Arab Saudi tidak sempat terpukul dan bisa segera bangkit. “Itu (kebangkitan) bukan karena desain, tapi oleh keberuntungan,” kata Khalid.

Tahun ini, pemerintah Arab Saudi mungkin tak lagi bisa berharap faktor keberuntungan bakal menyelamatkan perekonomiannya. Pasalnya, banyak pengamat energi memperkirakan rendahnya harga minyak dunia akan bertahan lama dan tak sampai US$ 60 per barel hingga tahun 2018. “Arab Saudi telah ‘memainkan permainan menunggu’," kata Robert Burgess, Kepala Ekonom Deutsche Bank AG untuk pasar negara-negara berkembang di Eropa, Timur Tengah dan Afrika.

Padahal, ekonomi Arab Saudi bakal terancam oleh terpangkasnya harga minyak dunia dan kebijakan subsidi harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. Kondisi ini memunculkan desakan agar negara tersebut mereformasi kebijakan ekonominya. "Pemerintah Arab Saudi tidak bisa terus berlagak seperti majikan," kata Farouk Soussa, Kepala Ekonomi Citigroup Inc. Untuk Kawasan Timur Tengah. Ia menyoroti strategi pemerintah memacu perekonomian melalui megaproyek infrastruktur, dana subsidi harga BBM yang besar dan tingginya anggaran dana sosial.

Pemerintah bisa memotong anggaran belanja untuk proyek-proyek besar, seperti membekukan proyek perluasan dua masjid di Mekah. Selain itu, mengutip pajak lebih besar dari orang kaya pemilik tanah. "Ada daftar panjang yang bisa dilakukan pemerintah sebelum mengusik kehidupan masyarakat biasa," kata Jamal Khashoggi, mantan penasihat media untuk Pangeran Saudi, Turki al-Faisal.

IMF juga merekomendasikan sejumlah kebijakan yang dapat dilakukan pemerintah Arab Saudi untuk menekan defisit anggarannya. Antara lain, menekan kenaikan upah para pegawai pemerintah, merevisi kebijakan subsidi harga BBM dan listrik, serta diversifikasi pendapatan non-minyak melalui pemungutan pajak.

Bayangkan saja, di saat banyak negara menghapus kebijakan subsidi harga BBM di tengah tren penurunan harga minyak, pemerintah Arab Saudi tetap mempertahankan praktik subsidi. Berdasarkan laporan Samba Financial Group di Riyadh, 18 Agustus lalu, pemerintah Saudi menganggarkan dana subsidi harga BBM tahun ini sebesar US$ 52 miliar atau 8 persen dari PDB. Harga BBM di negara itu cuma 16 sen dollar AS. Fahad al-Mubarak, gubernur bank sentral Arab Saudi, mulai menyerukan peninjauan kebijakan subsidi harga BBM.

Namun, kondisi yang menimpa Arab Saudi saat ini tentu belum bisa dianggap sebagai sebuah krisis. Negara ini masih punya harta melimpah dengan aset bersih di luar negeri sebesar US$ 664 miliar dan cuma punya sedikit utang. "Mereka (Saudi) berada di bisnis minyak, sudah cukup baik untuk waktu yang lama," kata David Butter, anggota asosiasi Chatham House di London. 

Sumber : Harga Minyak Anjlok dan Subsidi BBM Menjepit Ekonomi Arab Saudi

Berita lainnya dari KATADATA.CO.ID :

SKK Migas: Melesetnya Produksi Blok Cepu Bisa Memicu Efek Berantai

Harga Minyak Anjlok dan Subsidi BBM Menjepit Ekonomi Arab Saudi

Harga Elpiji Dianggap Kemahalan, Pertamina dan ICW Berbeda Hitungan

Katadata on Facebook | Twitter | Google +



via Katadata.co.id
Share this article :

0 comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013. Yuk Bisnis Property - All Rights Reserved