KATADATA – Melemahnya permintaan di dalam negeri, membuat PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk menutup tiga pabriknya yang ada di Citeureup, Jawa Barat. Total kapasitas ketiga pabrik tersebut sebesar 1,5 juta ton.
Direktur Utama Indocement Christian Kartawijaya mengatakan, ketiga pabrik yang ditutup itu antara lain pabrik P1, P2, dan P3. Penutupan ketiga pabrik tersebut merupakan upaya perseroan menyiasati turunnya margin keuntungan yang terimbas perlambatan ekonomi.
Kendati demikian, dia memastikan penutupan ketiga pabrik itu tidak akan mengganggu produksi semen perseroan secara keseluruhan. “Ketiga pabrik ini adalah pabrik tua yang saat ini sifatnya back up (pendukung) pabrik-pabrik kami,” kata Christian dalam pemaparan kinerja semester I-2015 di Restoran Kembang Goela, Jakarta, Senin (3/8).
Mengenai nasib pekerja di ketiga pabrik tersebut, Christian mengatakan, mereka akan dipindahkan ke pabrik terbaru Indocement yakni P14 yang memiliki kapasitas 4,4 juta ton. Dengan begitu, tidak ada kekhawatiran bahwa penutupan sementara tiga pabrik ini akan mengakibatkan para pekerja dirumahkan.
Dia menuturkan, kondisi ini merupakan kondisi yang wajar, terutama akibat permintaan semen domestik dan negara ekspor tradisional seperti Cina sedang melambat. Apalagi pada semester I ini industri semen nasional sudah mengalami penurunan sebesar 4 persen. Oleh sebab itu, Indocement tidak berharap industri semen akan tumbuh secara signifikan pada tahun ini.
“Jadi memang kondisi industri semen akan flat-flat saja pada tahun ini,” katanya. (Baca: Penjualan Turun, Laba Indocement Berkurang)
Perseroan pun sedang mencari beberapa cara untuk mempertahankan penjualan semen pada tahun ini. Di antaranya dengan fokus pada penjualan di wilayah Pulau Jawa dan menarik diri sementara dari luar Jawa. Apalagi hampir seluruh pabrik semen Indocement berada di Pulau Jawa dan hanya satu yang berada di Kalimantan Selatan.
“Jadi akan lebih mudah untuk berpartisipasi dengan proyek-proyek besar di Jawa seperti Mass Rapid Transit, dan proyek-proyek tol karena lokasi proyeknya dekat dengan pabrik kami,” ujar Christian. (Baca: Ekonomi Melambat, Ribuan Pekerja Dirumahkan)
Selain itu, Indocement juga akan berusaha menembus pasar ekspor semen non-tradisional, terutama negara-negara yang letaknya tidak terlalu jauh. Dia memberitahu, saat ini perseroan sedang menjajaki pasar Australia untuk melihat kemungkinan ekspor. Pada semesteri I, volume penjualan semen ekspor naik 72,5 persen dari 42,4 ribu ton di paruh pertama tahun lalu menjadi 73,2 tibu ton.
“Kabar terakhir kami sedang memasuki tender untuk beberapa proyek, tapi karena ini sifatnya tender pilihannya antara dapat atau tidak,” ujarnya. (Baca: Menteri ESDM Minta Perusahaan Migas Tidak PHK Karyawan)
Pada periode Januari-Juni 2015, Indocement membukukan penurunan laba bersih sebesar 8,4 persen menjadi Rp 2,3 triliun dari Rp 2,5 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Turunnya keuntungan tersebut akibat volume penjualan domestik yang berkurang menjadi 8,2 juta ton. Padahal, pada tahun lalu perseroan bisa menjual 9 juta ton dalam enam bulan pertama.
Selain Indocement, penurunan kinerja juga terjadi pada PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. Hingga tengah tahun, perseroan hanya membukukan laba bersih Rp 2,2 triliun, atau turun 20,4 persen dari Rp 2,7 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Penurunan kinerja emiten berkode SMGR tersebut disebabkan penurunan pendapatan pokok dari Rp 12,9 triliun menjadi Rp 12,6 triliun.
Sumber : Indocement Tutup Tiga Pabrik Agar Keuntungan Tak Anjlok
Berita lainnya dari KATADATA.CO.ID :
Pemerintah Akan Tawarkan 11 Blok Migas Bulan Depan
Pemerintah Bentuk Tim untuk Kaji Ulang Proyek Tanggul Raksasa
Indocement Tutup Tiga Pabrik Agar Keuntungan Tak Anjlok
Katadata on Facebook | Twitter | Google +
via Katadata.co.id
0 comments:
Post a Comment