Home » » Inflasi Rendah, BI Tetap Kesulitan Turunkan Suku Bunga

Inflasi Rendah, BI Tetap Kesulitan Turunkan Suku Bunga

Written By JUFRI on Monday, 3 August 2015 | 22:20

Katadata

KATADATA – Bank Indonesia (BI) sulit untuk menurunkan suku bunga acuan (BI Rate), kendati tingkat inflasi menunjukkan pergerakan yang stabil. Persoalannya, BI melihat ada potensi pelemahan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). 

Hal itu diungkapkan Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo di kantornya, kemarin. Menurut dia, berbagai tekanan terhadap rupiah membuat ruang untuk menurunkan suku bunga menjadi terbatas. Apalagi, ada potensi kenaikan suku bunga AS yang dapat membuat rupiah semakin terpuruk.

Badan Pusat Statistik (BPS) kemarin mengumumkan inflasi Juli berada di angka 0,93 persen, dan selama setahun inflasi tercatat sebesar 7,26 persen. Dilihat dari inflasi komponen inti sudah menunjukkan penurunan dari 5,04 persen pada Juni menjadi 4,86 persen.

“Itu (inflasi) satu pertimbangan dalam kami mengendalikan suku bunga. Tapi, kami juga pertimbangkan faktor lain, dalam hal ini suku bunga luar negeri yakni antisipasi kenaikan Fed Rate terhadap stabilisasi kurs yang akhirnya (pengaruh ke inflasi),” ujar Perry.

Pelemahan rupiah, lanjut Perry, akan berpengaruh terhadap neraca pembayaran Indonesia, terutama dari sisi neraca transaksi berjalan. Pada tahun ini, BI menargetkan defisit neraca transaksi berjalan berada di kisaran 2,5 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Adapun pada kuartal I-2015 defisit transaksi berjalan berada di posisi 1,8 persen.

“Prioritas kami adalah menjaga inflasi dan nilai tukar rupiah melalui kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran,” kata dia.

Menurut ekonom Universitas Indonesia Lana Soelistianingsih, inflasi yang rendah ini terlihat semu karena disebabkan oleh turunnya daya beli masyarakat. Hal ini terlihat dari uang yang beredar pada 2015 hanya Rp 125,2 triliun, naik tipis dari 2014 Rp 124,8 triliun. Padahal, permintaan uang oleh masyarakat pada 2013 sebesar Rp 103 triliun. Artinya, kenaikan permintaan dari 2013 ke 2014 cukup tinggi, sedangkan dari tahun lalu ke 2015 hanya naik tipis.

Jika BI menurunkan suku bunga, justru nilai tukar rupiah bisa mengarah ke Rp 14.000 per dolar AS. Bila itu terjadi, maka perusahaan akan semakin menurunkan aktivitas produksinya. Alasannya, impor bahan baku akan menjadi lebih mahal. Sementara, perusahaan tidak bisa menaikkan harga jual lebih tinggi. Mengingat daya beli masyarakat juga masih rendah saat ekonomi melambat seperti saat ini.

“Menurut saya inflasi rendah ini artifisial, karena kegiatan perusahaan menurun. Bahan baku mahal, daya beli masyarakat juga rendah. Bukan karena efek efisiensi. BI Rate itu baru bisa turun kalau sudah ada kepastian Fed Rate naik,” tutur Lana.

Di tempat terpisah, Presiden Joko Widodo meminta kalangan dunia usaha dapat memanfaatkan pelemahan nilai tukar untuk memacu kinerjanya, terutama menghasilkan produk-produk yang berorientasi ekspor.

Menurut Presiden, pelemahan nilai tukar rupiah dan perlambatan ekonomi global justru menjadi peluang untuk menciptakan pasar ekspor baru, di luar AS, Eropa, Cina, Jepang, dan Korea yang selama ini menjadi pasar tradisional bagi Indonesia. Pengusaha bisa menyasar pasar di Amerika Latin, Afrika, dan Timur Tengah.

“Saya malas lihat pengusaha yang suka mengeluh. Sekecil apa pun peluang harus dimasuki,” kata Presiden saat meresmikan pelepasan ekspor komoditas unggulan Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) di Pelabuhan Soekarno-Hatta, Makassar, seperti dikutip dari situs Sekretaris Kabinet, Senin (3/8). 

Sumber : Inflasi Rendah, BI Tetap Kesulitan Turunkan Suku Bunga

Berita lainnya dari KATADATA.CO.ID :

Bank Indonesia Prediksi Inflasi Juli 0,8 Persen

Diberi Tugas Khusus, LPEI Disuntik Modal Rp 2 Triliun

Dana Obligasi Jabar Dipakai untuk Bangun Bandara dan Jalan Tol

Katadata on Facebook | Twitter | Google +



via Katadata.co.id
Share this article :

0 comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013. Yuk Bisnis Property - All Rights Reserved