KATADATA – Bank Indonesia (BI) menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) lebih disebabkan oleh faktor eksternal. Sedangkan permintaan valuta asing (valas) oleh korporasi di dalam negeri, termasuk kebutuhan dolar AS oleh PT Pertamina (Persero) untuk mengimpor bahan bakar minyak (BBM), tidak signifikan menekan rupiah.
“Saya pikir membeli BBM impor memakai dolar AS, bukan sesuatu yang aneh. Tapi (rupiah melemah) tidak lantas seperti itu, bukan karena Pertamina,” kata Deputi Gubernur BI Mirza Adityaswara yang ditemui di kantornya, Jumat (7/8).
Menurutnya, pelemahan rupiah cenderung disebabkan oleh faktor eksternal, utamanya menunggu kepastian kenaikan suku bunga AS atau the Fed Rate. Indikasi ini, kata dia, pelemahan rupiah saat ini berbeda dengan kejadian pada 2005 dan 2008. Ketika itu rupiah terdepresiasi sendirian, sedangkan mata uang negara lain tidak mengalaminya.
“Kalau sekarang yang lain (juga) melemah, maka itu bukan sesuatu hal yang unik,” kata Mirza. (Baca: Rumor The Fed Tekan Rupiah)
Pihak Pertamina yang dihubungi Katadata mengakui jika membutuhkan pasokan dolar AS dalam jumlah besar untuk membiayai impor minyak mentah. Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro mengungkapkan, Pertamina membutuhkan sekitar US$ 70 juta atau setara dengan Rp 945 miliar saban hari untuk mengimpor minyak mentah dan produksi kilang.
Jika dirinci, impor minyak mentah tersebut untuk kebutuhan Premium sekitar delapan juta barel per bulan. “Sedangkan untuk Solar, volumenya ratusan ribu barel,” kata Wianda, Jumat (7/8). (Baca: Data Ekonomi Mengecewakan, Rupiah pun Lemah)
Demi menjamin kebutuhan valas tersebut, Pertamina memiliki fasilitas lindung nilai (hedging) dari Bank Indonesia (BI) senilai hingga US$ 2,5 miliar. Jadi, Pertamina tidak membeli dolar setiap hari dari pasar spot untuk kebutuhan valas dalam jumlah besar. Langkah ini bertujuan melindungi perusahaan BUMN tersebut dari risiko kerugian valas di tengah tren penurunan mata uang rupiah sepanjang tahun ini.
Di sisi lain, kebijakan hedging valas Pertamina itu tidak akan mengganggu atau melemahkan rupiah. Apalagi, menurut Wianda, kebutuhan valas sekitar US$ 70 juta per hari itu belum tentu akan terserap semua. “Itu plafon. Jadi bila tidak dibutuhkan, tidak akan terserap semua. Disesuaikan dengan kebutuhan,” katanya.
Sumber : BI: Rupiah Lemah Bukan Faktor Kebutuhan Dolar Korporasi
Berita lainnya dari KATADATA.CO.ID :
“Kilang Gas Badak Tak Akan Mati Seperti Arun”
Konsumen Premium dan Pertamax Beralih ke Pertalite
Pertamina Kaji Ulang Rencana Bangun Kilang
Katadata on Facebook | Twitter | Google +
via Katadata.co.id
0 comments:
Post a Comment