KATADATA – Pemerintah masih optimistis pelemahan kurs rupiah belum akan menganggu sistem keuangan di Tanah Air. Gejolak nilai rupiah serta indeks harga saham gabungan (IHSG) terkena dampak devaluasi mata uang yuan dinilai hanya sementara.
Hal itu disampaikan Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo seusai rapat Forum Stabilitas Sistem Keuangan (FSSK) tadi malam. Rapat dihadiri oleh Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) untuk merespons perkembangan ekonomi terkini, terutama setelah Cina menurunkan nilai mata uangnya.
“Dari hasil stress test di sektor keuangan, kondisinya relatif masih aman,” kata Mardiasmo.
Kendati demikian, FSSK tetap harus waspada dalam menjaga stabilitas sistem keuangan, terutama dari faktor nilai tukar rupiah. Terlebih lagi, bank sentral Cina baru saja melemahkan mata uang yuan untuk memacu ekspor.
“Jadi istilahnya kami menjaga stabilitas keamanan dan menahan agar kondisi tidak bergejolak,” kata Mardiasmo. (Baca: IHSG dan Rupiah Rontok Setelah Cina Lanjutkan Devaluasi Yuan)
Dari sisi pemerintah, dia memastikan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Perubahan (APBNP) 2015 masih tetap aman. Selain itu melemahnya rupiah terhadap dolar AS juga tidak berdampak terhadap bunga utang pemerintah.
Mardiasmo mengatakan, FSSK akan menjelaskan perkembangan ekonomi terkini pada Kamis besok. “Jadi akan diberitahu bagaimana respons masing-masing lembaga,” kata dia.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Suahasil Nazara mengakui, pelemahan nilai yuan akan meningkatkan persaingan dagang antar-negara. Pemerintah mewaspadai “perang kurs” yang tengah terjadi, terutama agar tidak menurunkan kinerja ekspor. “Tapi memang fenomena saat ini adalah menguatnya dolar AS terhadap hanpir seluruh mata uang,” kata dia.
Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengatakan, pelemahan rupiah hanya bersifat sementara, karena dampak kebijakan Cina tersebut tidak terlalu besar dibandingkan mata uang sekawasan.
“Pengaruh kebijakan di Cina terhadap rupiah tidak sebesar ke dolar Singapura, won Korea, dolar Taiwan, dan bath Thailand,” ujar Mirza dalam keterangannya.
Indeks harga saham gabungan (IHSG) dan kurs rupiah terjerembab terkena dampak kebijakan bank sentral Cina yang menurunkan nilai mata uangnya. Pada pagi ini, IHSG dibuka di posisi 4.522 poin, dan terus melorot sebesar 2,7 persen sampai penutupan sesi pagi. Begitupula dengan kurs rupiah yang tembus hingga level Rp 13.800 per dolar Amerika Serikat (AS).
Sumber : FSSK: Pelemahan Rupiah Belum Ganggu Sistem Keuangan
Berita lainnya dari KATADATA.CO.ID :
Pemerintah Akan Kurangi Ekspor Minyak dan Gas Bumi
VICO Akhirnya Setuju Pekerjakan Kembali Karyawan Subkontraktor
Pemerintah Targetkan Produksi 10 Ribu Kendaraan BBG Tahun Depan
Katadata on Facebook | Twitter | Google +
via Katadata.co.id
0 comments:
Post a Comment