KATADATA – Menteri Keuangan (Menkeu) Bambang Brodjonegoro mengatakan, gejolak nilai tukar rupiah yang terjadi dua hari ini merupakan dampak langsung devaluasi nilai tukar Cina, yuan. Kebijakan itu membuat negara-negara yang memiliki hubungan dagang dengan Cina terkena dampak langsung.
Menurut dia, yang terjadi terjadi terhadap rupiah tidak disebabkan oleh faktor fundamental perekonomian Indonesia. Terutama keterkaitannya dalam perdagangan di pasar keuangan. Dalam hal ini, pemerintah sudah melakukan koordinasi dengan Bank Indonesia (BI).
“BI akan ambil action. Mereka sudah bilang ke kami. Pokoknya BI akan menenangkan rupiah,” tutur Bambang di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta (12/8).
Pada perdagangan hari ini, kurs rupiah tercatat sudah menembus level Rp 13.800 per dolar Amerika Serikat (AS). Begitu pula dengan indeks harga saham gabungan (IHSG) yang pada penutupan perdagangan sesi pertama turun 2,7 persen ke posisi 4.499,7 poin.
Pergerakan rupiah dan indeks tersebut terimbas dari langkah Bank of China yang kembali mendevaluasi mata uang yuan sebesar 1,6 persen pada hari ini. Sehari sebelumnya, bank sentral Cina juga telah menurunkan sebesar 1,9 persen. Kebijakan tersebut sebagai upaya untuk meningkatkan kinerja ekspornya. Alhasil langkah ini menyebabkan dolar semakin kuat, sehingga membuat the Fed kemungkinan menunda kenaikan suku bunga yang rencananya akan dilakukan pada bulan depan.
Menurut Bambang, kebijakan ini tidak akan berdampak signifikan, karena mayoritas barang yang diekspor ke Cina merupakan komoditas, sementara harga komoditas sudah melemah sejak tahun lalu. “Jadi memang (rupiah) nggak akan terkoreksi terlalu banyak,” kata dia.
Tadi malam, Kementerian Keuangan, BI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) melakukan rapat Forum Stabilitas Sistem Keuangan (FSSK) untuk merespons perkembangan ekonomi terkini, terutama setelah Cina menurunkan nilai mata uangnya. Hasil rapat menyebutkan, pelemahan kurs rupiah belum akan menganggu sistem keuangan di Tanah Air.
“Dari hasil stress test di sektor keuangan, kondisinya relatif masih aman,” kata Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo.
Kendati demikian, FSSK tetap harus waspada dalam menjaga stabilitas sistem keuangan, terutama dari faktor nilai tukar rupiah. Terlebih lagi, bank sentral Cina baru saja melemahkan mata uang yuan untuk memacu ekspor. “Jadi istilahnya kami menjaga stabilitas keamanan dan menahan agar kondisi tidak bergejolak,” kata dia.
Sumber : Menkeu: BI Akan Turun ke Pasar, Tenangkan Rupiah
Berita lainnya dari KATADATA.CO.ID :
Penurunan Cadangan Devisa Tertahan Dana Obligasi Euro
Harga Minyak Turun, PLN Kesulitan Menyerap Gas Domestik
Lima Wajah Baru di Kabinet Jokowi
Katadata on Facebook | Twitter | Google +
via Katadata.co.id
0 comments:
Post a Comment