KATADATA – Setelah Cina mendevaluasi mata uangnya sebesar 3 persen pada pekan lalu membuat dolar Amerika Serikat (AS) semakin kuat terhadap mata uang global. Kebijakan tersebut membuat pusaran “perang kurs” semakin kencang, terutama di antara negara-negara ekonomi besar, seperti AS, Cina, Jepang, dan Uni Eropa.
Dalam sepekan, rupiah sudah turun hingga 2,9 persen. Memang bukan yang terdalam, masih di bawah ringgit Malaysia yang mencapai 5,6 persen. Namun, di antara negara-negara dengan ekonomi yang sedang berkembang, rupiah termasuk yang dianggap buruk.
Ekonom Universitas Indonesia Anton Gunawan mengatakan, BI tidak perlu menetapkan target rupiah pada tingkat tertentu. Soalnya, semua mata uang global saat ini tengah mengalami pelemahan. Alhasil, jika melakukan intervensi secara berlebihan untuk mempertahankan rupiah pada level tertentu akan sulit karena akan membahayakan posisi cadangan devisa, dan akan menimbulkan sentimen negatif yang baru.
“Intervensi tetap perlu supaya (pasar) jangan panik yang tidak karuan. Yang penting likuiditas di pasar tetap terjaga,” kata dia saat dihubungi Katadata, Jumat (21/8).
Dalam pandangannya, jika rupiah dilepas terlalu cepat akan berbahaya karena sektor usaha tidak bisa bisa melakukan penyesuaian. “Kalau itu terjadi, maka kita masuk awal krisis seperti 1997-1998,” kata dia.
“Jadi memang harus smooth, karena kalau mau dilawan dengan cadangan devisa seperti di Malaysia juga tidak akan bisa.” (Baca: IHSG dan Rupiah Rontok Setelah Cina Lanjutkan Devaluasi Yuan)
Menurutnya, ada beberapa faktor yang perlu dilihat sebagai penyebab pelemahan rupiah. Pertama, faktor eksternal, terutama lantaran sentimen “perang kurs”, termasuk dampak devaluasi Cina. Ini menyebabkan mata uang global melemah terhadap dolar AS. “Jadi kita tidak bisa nyelonong dengan tidak melemah sendirian,” kata Anton.
Kedua, faktor domestik. Bagi investor, situasi di dalam negeri akan risiko yang akan dihitung apakah memutuskan untuk bertahan, keluar sementara, atau keluar selamanya dari Indonesia.
Misalnya, apakah pelemahan itu disebabkan oleh fundamental ekonomi internal yang memang melemah. Bagi investor di pasar modal, mereka akan menghitung risiko yang ada di dalam negeri, sehingga memutuskan untuk keluar sementara atau selamanya. (Baca: BI Siapkan Tiga Strategi Hadapi Pelemahan Rupiah)
Risiko terbesar adalah dari prospek pertumbuhan ekonomi, karena terjadi pelemahan di semua lini penyumbang pertumbuhan. Kemudian yang juga diperhitungkan adalah pasar obligasi, tingkat suku bunga, serta inflasi. Meski inflasi cenderung turun, tapi masih ada kekhawatiran yang berasal dari harga pangan yang ujungnya akan berdampak pada daya beli dan pertumbuhan ekonomi.
“Bagi investor, depresiasi (rupiah) menjadi penting karena untuk memperkirakan ekspektasi. Kalau depresiasi tinggi, mereka keluar dulu,” tutur Anton.
Kepala Riset Bursa Efek Indonesia Poltak Hotradero mengatakan, situasi saat ini cukup membingungkan karena sentimen negatif terjadi seluruh dunia, terutama dimotori Cina yang ingin memacu pertumbuhan ekonominya. Dia meminta BI tidak terpancing terlalu jauh untuk menstabilkan rupiah dengan menggelontorkan cadangan devisa terus-menerus.
“Kita tahan, namun kalau cadangan devisa kita habis seperti Malaysia mau seperti apa nanti?” kata Poltak.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara mengatakan, pelemahan rupiah tidak bisa disandingkan satu arah dengan dolar AS. Ada berbagai faktor yang menyebabkan pelemahan, yakni kebijakan suku bunga the Fed serta devaluasi mata uang Cina dan Vietnam.
Kendati demikian, dia memastikan, BI tetap akan ada di pasar dengan melakukan operasi moneter untuk menjaga rupiah tetap berada di fundamentalnya. BI tidak akan membiarkan rupiah jatuh lebih dalam karena akan berdampak kepada inflasi. “Yang pasti kami tidak akan membiarkan rupiah melemah karena akan berdampak terhadap kondisi makro ekonomi,” katanya.
Sementara Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menepis adanya kepanikan pasar akibat pelemahan rupiah. Menurut dia, secara fundamental ekonomi Indonesia masih aman. Yang terjadi adalah adanya ketidakpastian akibat “perang kurs”, harga minyak mentah yang turun, serta belum jelasnya kenaikan suku bunga AS.
“Ini berimbas ke semua negara, bahkan harga saham AS saja jatuh, hampir semua bursa kena. Ini yang kami maksud tidak rasional,” kata Bambang. “Tolong dilihat, kalau ada kekhawatiran pasti ada cover meeting FKSSK, sekarang belum ada kan.”
Sumber : Rupiah di Tengah “Perang Kurs” Global
Berita lainnya dari KATADATA.CO.ID :
Penataan Organisasi ISC Pertamina Rampung Bulan Ini
Pasar Saham Global Anjlok Terimbas Kekhawatiran Ekonomi Cina
Ekonomi Melambat, Pertumbuhan Target Pajak Diturunkan
Katadata on Facebook | Twitter | Google +
via Katadata.co.id
0 comments:
Post a Comment