KATADATA – Rencana penataan struktur organisasi Integrated Supply Chain (ISC) Pertamina dinilai tidak menjamin pengadaan bahan bakar minyak (BBM) akan lebih efisien. Bahkan, kebijakan tersebut berpotensi “menghidupkan” kembali Pertamina Energy Trading Limited (Petral).
Fahmi Radi, mantan anggota tim reformasi tata kelola minyak dan gas bumi (migas), menyatakan fungsi perencanaan dan pengadaan minyak di dalam ISC tidak perlu dipisahkan. “Jika dipisahkan malah akan terjadi gap sehingga membuat unit usaha Pertamina itu menjadi tidak efisien,” katanya kepada Katadata, Jumat (21/8). Sebaliknya, dia mengusulkan, adanya lembaga pengawas yang terpisah dari ISC.
Sebelumnya, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Dwi Soetjipto mengatakan, penataan struktur organisasi ISC akan rampung akhir Agustus ini. ISC itu nantinya terdiri dari dua divisi yang terpisah, yaitu Divisi Perencanaan dan Divisi Pengadaan. Divisi Perencanaan ISC bakal lebih banyak berhubungan dan berkoordinasi dengan Direktur Pengolahan Pertamina, yang saat ini dijabat oleh Rachmad Hardadi.
Selain itu, level pimpinan ISC dinaikkan dari Vice President menjadi Senior Vice President (SVP) yang setara dengan Deputy Director di Pertamina. Sedangkan setiap divisi dipimpin oleh Vice President.
(Baca: Penataan Organisasi ISC Pertamina Rampung Bulan Ini)
Namun, Fahmi menilai, pemisahan fungsi tersebut merupakan modus untuk melucuti kewenangan ISC secara bertahap. Pasalnya, ISC hanya membuat perencanaan kebutuhan BBM, sedangkan pengadaannya akan diserahkan kepada anak perusahaan yang dituding Fahmi sebagai “Petral Jilid 2”. Untuk mencegah hal tersebut, Fahmi pun meminta Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said menolak rencana reorganisasi ISC Pertamina.
Sementara itu, Komaidi Notonegoro, pengamat energi dari Reforminer Institute, menganggap reorganisasi ISC tersebut tidak menjamin pengadaan minyak bakal lebih efisien. "Tergantung personilnya. Tidak menjamin organisasi dipisah akan lebih efektif,” katanya. Untuk memilih orang-orang yang duduk di ISC, Pertamina dapat meminta masukan, seperti rekam jejak informalnya, dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro menolak anggapan pemisahan kewenangan di tubuh ISC itu seperti menghidupkan kembali Petral. Lewat reorganisasi, fungsi pengadaan dan perencanaan yang dijalankan ISC nantinya masih di bawah fungsi unit Pertamina. ISC sebagai unit tersebut akan diawasi oleh direktur Pertamina. “Kalau Petral kan anak usaha sendiri, merupakan entitas bisnis sendiri,” imbuhnya.
Sekadar informasi, Pertamina membubarkan Petral dan seluruh anak usahanya sejak Mei lalu. Pembubaran itu atas permintaan Kementerian BUMN sebagai pemegang saham Pertamina dan Kementerian ESDM, dengan mengacu kepada hasil rekomendasi Tim Reformasi Tata Kelola Migas. Selanjutnya, tugas dan fungsi Petral dalam kegiatan ekspor dan impor minyak dialihkan kepada ISC.
Sumber : Tim Reformasi Migas: Reorganisasi ISC Bisa “Hidupkan” Lagi Petral
Berita lainnya dari KATADATA.CO.ID :
Kinerja Perdagangan Indonesia Semakin Mengkhawatirkan
Presiden Minta Menteri dan Menko Cari Solusi Megaproyek Listrik
OJK: Penerbitan Obligasi Jabar Baru Bisa Dilakukan 2016
Katadata on Facebook | Twitter | Google +
via Katadata.co.id
0 comments:
Post a Comment